right_side

Mengenai Saya

Foto saya
Lamongan, Jawa Timur, Indonesia
Hemat, Cermat , dan bersahaja itu lah Motto hidup yang harus kita Jalani, lakukan segala sesuatu dengan ikhlas

Pengikut


Myspace Photo Calendar
Backgrounds From myglitterspace.Com

Recent Posts

Obrolan Sahabat Blogger !!!

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
JellyMuffin.com - The place for profile layouts, flash generators, glitter graphics, backgrounds and codes
In:

SEGO BORAN

Itulah makanan yang biasa warga Lamongan sering bilang, karena Nama Sego Boran berasal dari tempat menyimpan nasi, boran. “Makanya disebut nasi boranan, di Lamongan banyak sekali yang menjual makanan ini, selain rasanya yang mantap, enak, maknyusss, dan edan... ini, sensasi sambal yang luar biasa mampu memikat hati para pecinta " Sego Boran ". bagi warga Lamongan tidak lah asing lagi untuk mencicipi masakan ini, tapi untuk para pelancong luar kota yang masih belom tahu sejenis makanan apakah ini, ndak usah kawatir karena saya disini akan mengulas semua tentang " Sego Boranan " untuk anda para pelancong luar negeri, kalau di kota - kota lain terkenal dengan makanan khasnya masing - masing di Lamongan tidak kalah khasnya dengan masakan - masakan dari kota Lain. okey langsung saja yah secara detail tentang " Sego Boran "

Biasanya warga Lamongan menyantap sego boran disaat sarapan pagi, mengapa ??? karena kenikmatan, dan cita rasa yang dimunculkan dari nasi boran ini muncul saat dihidangkan di pagi hari dengan ditemani segelas teh hangat, atau kopi, atau juga susu coklat hangat. hemm.... sungguh nikmat sekali, tapi jika anda yang ndak biasa makan makanan pedas di pagi hari lebih baik hindari makan sego boran ini di pagi ini, karena sego boran ini juga nikmat jika disantap di sore atau malam hari.

Sego Boran nikmat disantap dengan memakai alas daun pisang, kenapa ??? karena aroma daun pisang membuat masakan menjadi sedap harum dan nikmat dengan nasi panas di atasnya disertai dengan sambal Sego Boran, disertai dengan aksesoris pilihan yang terdiri dari kerawu, empuk. Empuk merupakan campuran tepung beras, gaplek, dan terigu. Adonan ini dibentuk bulatan kecil dan digoreng. Rasanya gurih karena dicampur bawang putih dan garam, ada juga gimbal poho dibuat dari singkong dan parutan kelapa. Sama seperti empuk, gimbal poho dimatangkan dengan cara digoreng , nasi boran kurang lengkap tanpa adanya rempeyek. Lauk yang disediakan sego boran bisa kita pilih sesuai selera kita, saya biasa memesen lauk ceker ayam karena ceker adalah lauk kesukaanku, ada juga penjual sego boran yang menyediakan sate jerohan ayam. yang terdiri dari usus ayam, telor kuning bundar, hati ayam dll. benar - benar menggoda setiap orang yang memakannya.. yumi dechh dijamin bakal ketagihan pengen ke Lamongan terus to bisa nikmati sedap dan enaknya Sego Boran.

Di Lamongan banyak sekali ditemukan penjual Sego Boran, hampir disetiap sudut kota lamongan berjejer penjual sego boran, biasanya tempat mangkal para penjual nasi boran yang banyak berada di Jl. KH. Ahmad Dahlan tepatnya di depan RS. BP Muhammadiyah Lamongan, ada juga disekeliling Alun-alun kota, di Pasar LI dan di Sawahan. Peminat sego boranan tidak cuma dari Lamongan. Warga kota lain yang singgah di sini, senang juga mencoba kelezatan nasi boranan. Apalagi harganya cukup terjangkau, sudah lengkap dengan sepotong ikan atau ayam goreng. Tunggu apa lagi ayo segera cicipi dan nikmati kelezatan dari sego boran !!!!
Selengkapnya...

In:

MENGENAL LAMONGAN LEBIH DEKAT

Dahulu Lamongan merupakan pintu gerbang menuju ke Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Panjalu, Kerajaan Jenggala, Kerajaan Singosari atau Kerajaan Mojopahit, yang berada pada ujung Galuh, Canggu dan Kembang Putih (Tuban ). Setelah itu tumbuh pelabuhan Sedayu Lawas dan Gujaratan ( Gresik ) , yang merupakan daerah yang sangat ramai sebagai penyambung hubungan dengan Kerajaan di luar Jawa bahkan sampai ke Luar Negeri.

Pada saat zaman Kerajaan Medang Kamulan, yang terletak di Jawa Timur, di Lamongan berkembang Kerajaan kecil Malwapati yang dipimpin oleh Raja Agung Angling Dharma dibantu Patih Sakti Batik Madrim termasuk kawasan Bojonegoro kuno. Saat ini masih tersimpan baik, sumping dan baju Angling Dharma didusun tersebut. ( Hampir- hampir mirip dengan cerita filem Angling Dharma yang disiarkan di Indosiar ) . Di sebelah barat berdiri sebuah Kerajaan Rajekwesi di dekat kota Bojonegoro sekarang.

Pada waktu Kerajaan Majapahit dipimpin Raja Hayam Wuruk (1350 -1389) kawasan kanan kiri Bengawan Solo menjadi daerah Pardikan. Yang merupakan daerah penyangga ekonomi Mojopahit dan jalan menuju pelabuhan Kambang Putih. Wilayah ini disebut Daerah Swatantra Pamotan dibawah kendali Bhre Pamotan atau Sri Baduga Bhrameswara paman Raja Hayam Wuruk, pada saat itu di bawah kendali Bhre Wengker. Daerah swatantra Pamotan meliputi 3 kawasan pemerintahan Akuwu , meliputi Daerah Bluluk Daerah Tenggulun Solokuro, dan daerah Padangan Bojonegoro.

Menurut buku Negara Kertagama telah berdiri pusat pengkaderan para cantrik yang mondok di Wonosrama Budha Syiwa yang bertempat di desa Blawi Karangbinangun, di Sendang Duwur Paciran, di Lopang Kembangbahu dan di desa Lawak Ngimbang. Desa Babat kecamatan Babat ditengarahi terjadi perang Bubat, sebab saat itu babat salah satu tempat penyeberangan diantara 42 tempat sepanjang aliran bengawan Solo. Berita ini terdapat dalam Prasasti Biluluk yang tersimpan di Musium Gajah Jakarta, berupa lempengan tembaga serta 39 gurit di Lamongan yang tersebar di Pegunungan Kendeng bagian Timur dan beberapa tempat lainnya.
Menjelang keruntuhan Mojopahit tahun 1478M, Lamongan saat itu dibawah kekuasaaan Keerajaan Singosari bergantian dengan Kerajaan Kertosono yang dikenal dengan kawasan Gunung Kendeng Wetan dipimpin oleh Demung, dan bertempat disekitar Candi Budha Syiwa di Mantup. Setelah itu dipimpin Rakrian Rangga samapi 1542M ( petilasan di Mushalla KH.M.Mastoer Asnawi kranggan kota Lamongan ). Kekuasaan Mojopahit di bawah kendali Ario Jimbun anak Prabu Brawijaya V di Galgahwangi yang berganti Demak Bintoro bergelar Sultan Alam Akbar Al Fatah 1500 – 1518, lalu diganti anaknya, Adipati Unus 1518 -1521 M , Sultan Trenggono 1521 – 1546 M.

Dalam mengembangkan ambisinya, Sultan Trenggono mengutus Sunan Gunung Jati ke wilayah barat untuk menaklukkan Banten, Jayakarta, dan Cirebon. Ke timur langsung dipimpin Sultan sendiri menyerbu Lasem, Tuban dan Surabaya sebelum menyerang Kerajaan Blambangan. Pada saat menaklukkan Surabaya dan sekitarnya, pemerintahan Rakryan Rangga Kali Segunting, ditaklukkan sendiri oleh Sultan Trenggono 1541 . Namun tahun 1542 terjadi pertempuran hebat antara pasukan Rakkryan Kali Segunting dibantu Kerajaan Singosari dan Kerajaan Kertosono Nganjuk dibawah pimpinan Ki Ageng Angsa dan Ki Ageng Panuluh, dan mampu ditaklukkan pasukan Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Abu Amin, Panji Laras, Panji Liris. Pertempuran sengit terjadi didaerah Bandung, Kalibumbung, Tambakboyo dan sekitarnya.
Tahun 1543M, dimulailah Pemerintahan Islam yang direstui Sunan Giri III, oleh Sultan Trenggono ditunjuklah R.Abu Amin untuk memimpin Karanggan Kali Segunting, yang wilayahnya diapit kali Lamong dan kali Solo. Wilayah utara kali Solo menjadi wilayah Tuban, perdikan Drajat, Sidayu, sedang wilayah selatan kali Lamong masih menjadi wilayah Japanan dan Jombang. Tahun 1556 M R.Abu Amin wafat digantikan oleh R.Hadi yang masih paman Sunan Giri III sebagai Rangga Hadi 1556 -1569M Tepat hari Kamis pahing 10 Dzulhijjah 976H atau bertepatan 26 mei 1569M, Rangga Hadi dilantik menjadi Tumenggung Lamong bergelar Tumenggung Surajaya hingga tahun 1607 dan dimakamkan di Kelurahan Tumenggungan kecamatan Lamongan dikenal dengan Makam Mbah Lamong.

Setelah Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, daerah Lamongan menjadi daerah garis depan melawan tentara pendudukan Belanda, perencanaan serangan 10 Nopember Surabaya juga dilakukan Bung Tomo dengan mengunjungi dulu Kyai Lamongan dengan pekikan khas pembakar semangat Allahu Akbar. Lamongan yang dulunya daerah miskin dan langganan banjir, berangsur-angsur bangkit menjadi daerah makmur dan menjadi rujukan daerah lain dalam pengentasan banjir. Dulu ada pameo “ Wong Lamongan nek rendeng gak iso ndodok, nek ketigo gak iso cewok “ tapi kini diatasi dengan semboyan dari Sunan Drajat, Derajate para Sunan dan Kyai “ Memayu Raharjaning Praja “ yang benar –benar dilakukan dengan perubahan mendasar, dalam mensejahterahkan rakyatnya masih memegang budaya kebersamaan saling membantu sesuai pesan kanjeng Sunan Drajat “ Menehono mangan marang wong kangluwe, menehono paying marang wong kang kudanan , menehono teken marang wong kang wutho, menehono busono marang wong kang wudho “

Kabupaten Lamongan yang sekarang dikomandani H.Masfuk sebagai Bupati periode ke 2 dan H.Tsalis Fahmi sebagai wakil Bupati melejit , dengan terobosannya yang menjadi perbincangan Nasional. Yang menonjol selama ini menjadi Ikon Wisata Bahari Lamongan, Lamongan Integrated Sharebased, Proyek Pelabuhan Rakyat, dan Proyek Lapangan Terbang dan Eksplorasi minyak Balong Wangi Sarirejo,memungkinkan datangnya investasi baik dari dalam negeri maupun investor luar negeri. Dengan tangan dinginnya PKL ditata rapi, Kelancara jalan desa dan pengairan ditata sedemikian rupa, termasuk memberikan Bea siswa bagi siswa dan mahasiswa berprestasi yang ekonominya kurang beruntung, dan nantinya jika telah menyelesaikan studynya bisa kembali dan menyumbangkan pikiran dan kemampuannya demi kemajuan Lamongan. Sungguh betapa Lamongan sekarang menjadi kota yang makmur, berkualitas tidak kalah dengan kota- kota yang lain. Lamongan sekarang Berjaya berkat pimpinan Bupati kita Bapak H. Masfuk beserta wakil Bupati kita H. Tsalis Fahmi sekarang Lamongan lebih berpotensi dan Berjaya. Saya sangat bangga menjadi Warga Lamongan kita pun semua harus bangga menjadi warga Lamongan.
Selengkapnya...

In:

SEJARAH HARI JADI KOTA LAMONGAN

Sudah pada denger belom sejarah hari jadi kota Lamongan, kalau masih ada yang belum tahu begini – nih ceritanya simak baik – baik yach….., coz penting banget nich sobat – sobat, masak warga Lamongan gak tahu sejarahnya heheheheh kan jadi malu – malu dong kayak lagunya T2 heheheh… okey langsung aja begini ceritanya :
Masyarakat kota Lamongan beserta Pemerintah Daerah Tingkat II Lamongan telah berhasil menemukan hari jadi kota Lamongan, setelah melalui beberapa riset panjang yang telah dilakukan oleh masyarakat sekitar dan juga Pemerintah Daerah Tingkat II Lamongan, ditepatkanlah hari jadi kota Lamongan yaitu pada hari Kamis Pahing tanggal 10 Djulhijjah Tahun 976 Hijriah, atau hari Kamis Pahing tanggal 26 Mei 1569 Masehi. Bahwasannya hari jadi kota Lamongan tersebut diambil dan ditetapkan dari hari dan tanggal diwisudanya Adipati Lamongan yang pertama, yaitu TUMENGGUNG SURAJAYA “.
Tumenggung Suraja dikala beliau berusia muda beliau sering disebut dengan nama Hadi, beliau berasal dari dusun Cancing yang sekarang termasuk Wilayah Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Sejak masih muda Beliau sudah nyuwito di Kasunanan Giri dan menjadi seorang santri yang dikasihi oleh Kanjeng Sunan Giri karena sifatnya yang baik, pemuda yang trampil, cakap, serta cepat menguasahi ajaran agama islam serta seluk beluk pemerintahan. Karena pertimbangan itu akhirnya Sunan Giri menunjuk Hadi untuk melaksanakan perintah menyebarkan agama Islam dan sekaligus mengatur pemerintahan dan kehidupan Rakyat di Kawasan yang terletak di sebelah barat Kasunanan Giri yang bernama Kenduruan. Untuk melaksanakan tugas berat tersebut Sunan Giri memberikan Pangkat Rangga kepada Hadi menjadi RANGGAHADI. Seiring dengan berjalannya waktu Ranggahadi kemudian juga disebut sebagai mbah Lamong yaitu sebutan yang diberikan oleh masyarakat sekitar Lamongan.
Karena Ranggahadi pandai sekali dalam ngemong Rakyat, pandai membina daerah serta mahir dalam menyebarkan agama islam dan dicintai oleh seluruh rakyatnya dari asal kata mbah Lamong lah kawasan ini terkenal dengan sebutan LAMONGAN.
Adapun yang mewisudai Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama, tidak lain dan tidak bukan adalah Kanjeng Sunan Giri IV yang bergelar Sunan Prapen. Wisuda tersebut bertepatan dengan hari pesamuan agung yang diselenggarakan di Puri Kasunanan Giri di Gresik, yang dihadiri oleh pembesar yang sudah masuk agama islam dan para Sentana Agung Kasunanan Giri. Pelsanaan Pasamuan Agung tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Besar Islam yaitu Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.
Ringkas sejarah, Ranggahadi dengan segenap pengikutnya dengan naik perahu melalui Kali Lamong, akhirnya dapat menemukan tempat yang bernama Kenduruan itu. Adapun kawasan yang disebut kenduruan, berstatus kampung di kelurahan Sidokumpul wilayah kecamatan Lamongan. Di daerah baru tersebut ternyata semua usaha dan rencana Ranggahadi dapat berjalan dengan mudah dan lancer, terutama di dalam usaha menyebarkan agama islam, mengatur pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Bahkan Pesantren untuk menyebarkan Agama Islam peninggalan Rangga Hadi sampai sekarang masih ada.
Kembali kepada sejarah terbentuknya Lamongan, Berbeda dengan daerah – daerah Kabupaten lain khususnya di Jawa Timur yang kebanyakan mengambil sumber dari sesuatu prasasti, atau dari suatu Candid an dari peninggalan sejarah yang lain, tetapi hari lahir Lamongan mengambil sumber dari buku wasiat, Silsilah Kanjeng Sunan giri yang ditulis tangan dalam huruf Jawa Kuno / Lama yang disimpan oleh juru kunci Makam Giri di Gresik. Almarhum Bapak Muhammad Baddawi di dalam buku tersebut ditulis, bahwa “ Diwisudanya Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan dilakukan dalam pesamuan agung di Tahun 976 H. yang di tulis dalam buku wasiat tersebut memang hanya tahunan saja, sedangkan tanggal, hari dan bulannya tidak dituliskan.
Oleh sebab itu, Panitia Khusus Penggali Hari Jadi Kota Lamongan mencari sebuah pembuktian sebagai dasar yang kuat guna mencari dan menetapkan tanggal, hari dan bulannya. Setelah Panitia menulusuri buku sejarah, terutama yang bersangkutan dengan Kesunanan Giri, serta sejarah para wali dan adat istiadat di waktu itu, akhirnya dengan susahpayah dan kerja keras serta semangat yang tinggi Panitia menemukan bukti, bahwa adat atau tradisi kuno yang berlaku di zaman Kasunanan Giri dan Kerajaan Islam di Jawa waktu itu, selalu melaksanakan pesamuan agung yang utama dengan memanggil menghadap para Adipati. Tumenggung serta para pembesar lainnya yang sudah memeluk agama Islam. Pesamuan Agung tersebut dilaksanakan bersamaan dengan Hari Besar Islam tanggal 10 Dzulhijjah yang disebut Grebeg Besar atau Idhul Adha.
Dengan demikian, jelas bahwa perkembangan daerah Lamongan sampai akhirnya menjadi wilayah Kabupaten Lamongan sepenuhnya berlangsung dijaman keislaman dengan Kesultanan Pajang sebagai pusat pemerintahan. Tetapi yang bertindak meningkatkan Kranggan Lamongan menjadi Kabupaten Lamongan serta yang mengangkat/ mewisudai Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama bukanlah Sultan Pajang melainkan Kanjeng Sunan Giri IV. Hal itu disebabkan Kanjeng Sunan Giri prihatin terhadap Kesultanan Pajang yang selalu resah dan situasi pemerintahan yang kurang mantap. Disamping itu Kanjeng Sunan Giri juga merasa prihatin dengan adanya ancaman dan ulah para pedagang asing dari Eropa yaitu orang Portugis yang ingin menguasahi Nusantara khususnya Pulau Jawa.
Nach gimana, dah pada tahu kan sekarang, oleh karena itu kita sebagai warga Lamongan harus selalu bangga dengan kota kita tercinta, jangan pek malu – maluin Okey Good Luck to sobat blogger.


Selengkapnya...

In:

SEJARAH PANJI LARAS LIRIS

Sudahkah Anda pernah dengar tentang sejarah Panji Laras Liris, kalau belom kemana saja…….!!!!! (he…he…he… Just Kidding ) Okey saya akan jelaskan kembali awal mula terjadinya sejarah Panji Laras Liris. Kalau kita warga Lamongan asli kita pasti tidak akan asing dengan sejarah panji laras liris ini, okey langsung saja begini sejarahnya :

Sebuah tradisi yang diduga berhubungan dengan sejarah leluhur Lamongan, bahwasanya tradisi perempuan yang harus meminang ( melamar ) laki – laki terlebih dahulu sampai sekarang masih banyak dipercayai oleh warga sekitar, walaupun tradisi itu sudah ditinggalkan, tatapi masih saja ada warga yang memakai tradisi itu. Tradisi itu diduga kuat berhubungan dengan sejarah leluhur Lamongan yang bernama Panji Laras Liris.
Dalam riwayat Panji Laras Liris di ungkapkan, pada sekitar tahun 1640-1665 Kabupaten Lamongan dipimpin Bupati ketiga. Yakni Raden Panji Puspa Kusuma dengan gelar Kanjeng Gusti Adipati. Bupati itu mempunyai dua putra yaitu Panji Laras dan Panji Liris, sehingga mengakibatkan dua putri dari Adipati Wirasaba ( Wilayahnya sekitar kertasono nganjuk ) yakni Dewi Andanwangi dan Dewi Andansari jatuh hati.
Karena Adipati Wirasaba didesak oleh kedua putrinya akhirnya beliau menuruti keinginan putrinya untuk melamar panji laras dan panji liris di Lamongan, yang pada saat itu Wirasaba belum memluk agama Islam, sedangkan di Lamongan Islam sudah sangat melekat.
Untuk menyikapi hal itu, Panji Laras dan Liris meminta haiah berupa dua genuk dan dua tikar yang terbuat dari batu, sebeb genuk mengandung isyarat tempat untuk mengambil air wudhu sedangkan tikar untuk shalat yang mempunyai tujuan agar Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi mau masuk Islam.
Kemudian Adipati Wirasaba memnuhi permintaan itu, dan kedua putrinya membawa langsung benda – benda tersebut dengan naik perahu yang dikawal oleh prajurit. Kedatangan ke dua putri tersebut disambut langsung oleh Panji Laras Liris di pinggir kali Lamongan.
Ketika akan turun dari perahu kain panjang Dewi andansari dan Dewi Andanwangi terbuka dan kelihatan betisnya. Melihat betis kedua putrid tersebut Panji Laras Liris tercengang ketakutan karena melihat betis kedua putri itu berbulu lebat.
Hal itu merupakan suatu penghinaan bagi prajurit Wirasaba, kemudian mereka mengajar Panji Laras dan Panji Liris demikian pula prajurit dari lamongan juga harus melindungi kedua pemuda tersebut yang akhirnya terjadi perang Babad. Dalam perang tersebut Panji Laras dan Panji Liris tewas, termasuk Pati Mbah Sabilan.
Jenazah mbah sabilan dimakamkan dikelurahan Tumenggungan, sedangkan jenzah Panji Laras dan Panji Liris serta Dewi Andansari dan dewi Andanwangi menjadi nama jalan di Kota Lamongan. Jalan tersebut diberi nama jalan Laras Liris dan jalan Andanwangi serta jalan Andansari.
Mbah Sabilan maupun Panji Laras dan Liris dinilai meninggal dunia ketika sedang berjuang untuk syi’ar Islam.

Nach……, demikian itu lah secuil cerita dari kisah Panji Laras dan Panji Liris, semoga dapat menginspirasikan kita, ambil sisi baiknya yach……..!!!
Selengkapnya...

In:

SEJARAH LARANGAN MEMAKAN IKAN LELE BAGI WARGA LAMONGAN

Wah…wah ….. sobat blogger tahu ikan lele kan…. Ikan yang paling tampan berkumis tipis….., pasti tahu dong…. Udah pada nyoba makan belom….., duch… pasti enak banget dech kalau dimasak dengan sambel ulek pakek lalapan, nyam..nyam….., atau dibuat pecel Lele wah..wah… ndak bias diungkapin dengan kata – kata dech Poko’e Maknyusss….. ( Kata Pak Bondan ) he..he… , Tapi….. buat para pecinta Lele n khususnya bagi warga Lamongan dah pernah denger ndak tentang larangan warga Lamongan soal memakan Lele, bener ndak bener seh, kalau asal jangan usul kalau usul ndak boleh asal ( pa hubungannya ) gini ceritanya :

Dahulu kala ada seorang perempuan yang sangat sholehah, yang sudah beberapa bulan ini ditinggalkan oleh suaminya pada saat melahirkan putranya pada waktu fajar mulai terbenam, tujuh hari kemudian diadakan selamatan dirumahnya dengan mengundang masyarakat sekitar untuk memberikan do’anya. Putra dari perempuan tersebut diberi nama Boyo Pati. Boyo Pati kecil tumbuh dan berkembang dalam asuhan dan didikan ibunya hingga tumbuh dewasa, kemudian ia nyantri di pesantren yang dipimpin oleh Kanjeng Sunan Giri di Giri Kedaton. Setelah beberapa tahun menjadi santri dan mengikuti dakwah yang dilakukan Kanjeng Sunan Giri bersama santri – santri yang lain Boyo Pati memohon izin kepada Kanjeng Sunan Giri untuk dapat pulang menjenguk ibunya yang sudah tua.

Kanjeng Sunan Giri mengizinkan Boyo Pati untuk berkunjung ke rumah ibunya, setelah beberapa waktu tinggal di rumah dan merawat ibunya yang sendirian hingga wafatnya, Boyo Pati kembali ke Giri Kedaton untuk melanjutkan dakwah bersama dengan Kanjeng Sunan Giri, namunpada waktu yang hamper bersamaan Kanjeng Sunan Giri sedang mencari santri yang sanggup untuk mengemban sebuah misi yang sangat berat.

Suatu ketika Kanjeng Sunan Giri silaturrohim ke rumah Mbok Rondo yang ada di Lamongan, Mbok Rondo adalah orang yang alim dan sakti di Lamongan, Kanjeng Sunan Giri mengenal mbok Rondo sewaktu di Mekkah dan Kanjeng Sunan Giri pun sering sekali menemui mbok rondo di Mekkah, hal tersebut sedikit membuktikan kebenaran yang berkembang di tengah masyarakat waktu itu, karena konon Mbok Rondo tidak pernah sholat kecuali di Mekkah. Pada waktu bersilaturrohim ke rumahnya, keris pusaka Kanjeng Sunan Giri tertinggal disana dan Kanjeng Sunan Giri berniat untuk mencari orang yang sanggup untuk mengambilnya tanpa diketahui oleh mbok Rondo.

Pada saat itu datang Boyo Pati menghadap Kanjeng Sunan Giri untuk menawarkan diri dan menyatakan kesanggupan untuk mengambil keris pusaka yang tertinggal di rumah Mbok Rondo tanpa diketahui oleh pemilik rumahnya. Namun Kanjeng Sunan Giri tidak begitu mempercayai dengan kemampuan yang dimiliki Boyo Pati, maka Kanjeng Sunan memberikan kesempatan kepada Boyo Pati untuk dapat menunjukkan dan membuktikan kesaktian sebelum mengemban misi tersebut, yaitu dengan memasuki rumah Kanjeng Sunan.

Saat hari sudah mulai gelap dan semua santri diperintahkan untuk mengkosongkan rumah dan supaya beristirahat di surau dan asrama, kemudian Kanjeng Sunan mengunci seluruh pintu dan menutup semua lubang cahaya dengan kesaktiannya, dan kemudian beliau beristirahat di kamarnya yang juga terkunci dengan kesaktiannya. Tanpa diaketahui siapapun akan apa yang terjadi pada malam itu, karena ketika Kanjeng Sunan terbangun tengah malam Kanjeng Sunan Giri telah menemukan dirinya telah berpindah tempat dan sudah berada di teras depan rumah beralaskan tikar pandan. Kanjeng Sunan heran dan takjub dengan kesaktian yang dimiliki oleh Boyo Pati, karena bukan sesuatu yang pisah ( tidak menempel ) darbi dirinya yang berpindah tempat melainkan dirinya sendiri telah dipindahkan dari kamar tidur ke teras depan rumah tanpa teasa apa – apa.

Kanjeng Sunan Giri telah mengakui ilmu dan kesaktian Boyo Pati, maka beliau pun mengizinkan Boyo Pati untuk mengemban misi mengambil keris yang berada di rumah Mbok Rondo di Lamongan yang sakti dan berilmu tinggi. Sebelum melepas keberangkatan Boyo Pati beliau berpesan kepadanya untuk berhati-hati karena mbok rondo mempunyai kucing peliharaan yang amat disayangi, yang bisa mengetahu siapa saja yang mendatangi rumah majikannya dengan cara apapun.

Dengan mengingat pesan dan nasehat kanjeng sunan, sehabis Ashar Boyo Pati berangkat menuju ke rumah Mbok Rondo untuk mengambil keris pusaka milik kanjeng sunan Giri, Boyo Pati adalah orang sakti yang tahu apa yang harus dilakukan, maka dengan kesaktiannya ia merubah wujud menjadi seekor kucing dia memasuki rumah Mbok Rondo, sambil berjalan kesana kemari matanya mencari sesuatu. Ketika memasuki ruang tengah dia bertemu dengan seorang perempuan setengah baya yang sedang menenun kain, dan tepat di atasnya sebuah keris pusaka menempel di dinding, sepertinya Mbok Rondo sengaja keris tersebut ditaruh di tempat yang tidak jauh dari dirinya.

Mbok rondo yang menyayangi semua binatang dan memiliki peliharaan kucing pun mendekati kucing didepannya, mengambil dan menggendong dipangkuannya, namun ketika Mbok Rondo hendak meneruskan pekerjaannya menenun kain ia kaget melihat kucing peliharaanya datang dengan menyerang kucing yang berada di pangkuannya, pada saat yang hampir bersamaan, kucing yang dipangkunya meloncat dan menyambar keris yang berada di dinding kemudian lari keluar rumah berubah wujud aslinya yaitu Boyo Pati. Mbok rondo pun berteriak meminta tolong bahwa maling telah masuk rumahnya dan mencuri keris kanjeng sunan Giri. Para santri dan penduduk setempat pun keluar dan mengejar Boyo Pati yang lari ke arah selatan.

Setelah lari sekian jauh Boyo Pati terjebak karena didepannya sudah tidak ada jalan, yang ada adalah sebuah telaga yang penuh dengan ikan lele bule, sedangkan dibelakangnya adalah para santri mbok Rondo dan para penduduk yang mengejarnya. Tidak ada jalan lain bagi Boyo Pati kecuali memasuki telaga yang mengerikan, dia berfikir lebih baik mati dimakan ikan-ikan tersebut dari pada mati di tangan para pengejarnya yang berarti gagal mengemban misi dari kanjeng sunan. Maka dengan mengerahkan kesaktiannya dia pun masuk dan menyelam kedalam telaga tersebut beberapa saat kemudian para santri dan penduduk yang mengejarnya telah sampai di depan telaga dan tidak menemukan buruan mereka, mereka yakin kalau pencuri itu masuk ke dalam telaga akan menjadi santapan lele-lele tersebut. Beberapa saat kemudian mereka pun kembali dan meninggalkan telaga tersebut, sesaat kemudian Boyo Pati keluar dari telaga dengan selamat, pada saat ia menyadari bahwa dirinya masih hidup oleh karena itulah dia bersumpah bahwa dia dan seluruh anak turunya tidak akan makan ikan lele.

Demikianlah singkat cerita dari asal muasal warga Lamongan dilarang memakan ikan Lele, tetapi tidak semua orang percaya akan apa yang terjadi dan menajadi fenomena menarik di pedalaman kabupaten Lamongan tersebut, dan sebagian orang hanya menganggap hal tersebut sebagai mitos.

Selengkapnya...

In:

Play in Alun - Alun Garden bag. 2

Hai.. hai dah pada gak sabar yah denger kisahku selanjutnya okey - okey langsung aja yah.... aku ceritain buat kalian - kalian semua :



Ayo ikuti perjalananku di Alun - alun Kota Lamongan Came On...... berangkat ........

Nach lho... liat nech aksiku yang lagi asik bermain ayunan



Nach.... kalau yang ini kita bisa melatih otot kekuatan kaki kita seru banget dech apalagi kalau rame - rame wah... dijamin gak bakal mau pulang dech...!!!




Okey dech teman - teman karena hari udah mulai larut, and takut juga tar dimarahi ma nyokap aku mau pulang dulu yah..... sampai disini dulu perjalanan Hafizh di Alun - alun Kota Lamongan tar kalau ada waktu kita sambung lagi yah... n buat teman - teman or saudara - saudara jangan lupa mampir ke Alun - alun Lamongannya tak tunggu kehadirannya okey
salam manizz selalu dari aku bye.........
Selengkapnya...

In:

Play in Alun - Alun Garden

Hallow sobat blogger aku punya cerita seru nech.... sekarang Lamongan tidak kalah ma kota - kota yang laen lho..... ndak percaya ??? ngelaut aja lagi.....!! hari gini gak tahu hebatnya Lamongan.... duch....!!! okey..okey... untuk yang diluar Lamongan aku bakal ceritaan hebohnya sekarang di Lamongan selain Lamongan terkenal dengan tempat pariwisata WBL ( Wisata Bahari Lamongan ) nya di Alun - alun kota Lamongan kita juga bisa menikmati indahnya pemandangan kota Lamongan, dan juga kita bisa bersantai disana buat adek - adek jangan takut ada banyak.. sekali permainan yang dapat dinikmati di sini lihat nech fotoku yang lagi asik maen hehehe....
saat aku bermain terowongan luncur

Ndak cuma ini aja lho permainannya ada juga adu ketangkasan, kekuatan tangan, dan yang ndak kalah menariknya nikmati pemandangan air mancur yang begitu indah dengan udara yang sejuk wah....wah... asik banget deh :

saat ku di perosotan


Lha kalau yang ini aku lagi di atas tangga permainan


Gimana asik kan teman - teman masih banyak.... lagi yang akan aku kasih liat buat sobat - sobat sekali tapi tunggu kisah selanjutnya yah di Perjalanan Hafizh menjelajahi Lamongan hehehe....


Bersambung........!!!
Selengkapnya...

In:

PUISI UNTUK KOTAKU “ LAMONGAN “

Lamongan………
Duhai Lamongan
Betapa indah kotamu
Bersih wajahmu
Hijau badanmu
Menyejukkan mata di setiap orang yang memandang
Tetaplah indah dikala fajar mulai merona
Tetaplah bersinar dikala fajar mulai meredup
Jayalah Lamonganku
Engkaulah yang no. 1 Selengkapnya...

In:

Suara Hati di Setiap Harapan

Ya Allah ya Robb…..
Betapa gembiranya hati ini
Dikala melihat senyum gembira, canda tawa warga Lamongan
Lamongan sekarang tidak seperti dulu
Kini lamongan semakin maju….
Semakin indah…….
Terima kasih Ya Allah
Engkau telah memberikan pemimpin yang tepat untuk Kotaku
Terima kasih Bapak Masfuk
Karena Beliau kamipun Bahagia Selengkapnya...

In:

Do’a Arek Lamongan

Ya Allah Ya Robb….

Jadikan kotaku Lamongan Sebagai kota yang selalu dihiasi keimanan kepada-Mu

Lindungilah Kotaku dari segala kekerasan dan marabahaya

Jadikan Lamongan sebagai kota yang sejahtera, aman, tentram dan bersahaja

Jadikan pemimpin Lamongan menjadi pemimpin yang mampu membawa rakyatnya menjadi rakyat yang selalu bertaqwa hanya kepada-Mu

Amin………

Selengkapnya...